Lampung Timur —
Di sudut terpencil Dusun Pulowaru, Desa Purworejo, Kecamatan Pasir Sakti, di antara hamparan sawah dan jalan tanah yang sunyi, seorang pemuda bernama Agus (20) sedang berjuang mempertahankan hidupnya.
Bukan di rumah sakit yang layak, bukan di atas ranjang empuk—melainkan di sebuah gubuk kayu tua yang miring dan nyaris ambruk, ditemani rasa sakit yang tak kunjung reda.

Tubuh Agus terbaring lemah di atas tikar tipis di lantai papan yang lembap. Kaki kirinya nyaris putus, luka terbuka itu menjadi saksi bisu tragedi yang mengubah hidupnya selamanya.
Setiap tetes air hujan yang menetes dari atap bocor bukan hanya membasahi tubuhnya, tetapi juga membasahi lukanya—mengancam infeksi dan keselamatan jiwanya.

Tragedi memilukan itu terjadi pada 20 November 2025. Saat bekerja sebagai buruh pemotong rumput demi membantu ekonomi keluarga, sebuah kecelakaan kerja tak terduga terjadi.
Pisau mesin potong rumput meledak, menghantam kaki kiri Agus dengan brutal. Dalam hitungan detik, masa depan yang ia bangun dengan keringat runtuh seketika.

Sejak hari itu, Agus tak lagi mampu berdiri, apalagi bekerja. Ia hanya bisa terbaring, menahan nyeri yang kerap membuatnya meringis di tengah malam, tanpa pengobatan yang memadai.
Lebih menyayat hati, Agus hidup dalam kemiskinan ekstrem. Rumah yang ia tempati bersama keluarganya hanyalah gubuk kayu lapuk: dindingnya miring, lantainya rapuh, dan sewaktu-waktu bisa roboh. Tidak ada kasur, tidak ada kamar mandi layak, tidak ada perlindungan dari panas dan hujan. Yang tersisa hanyalah harapan rapuh yang digenggam di tengah keterbatasan.

Ayah Agus bekerja sebagai buruh pengayak pasir dengan penghasilan sekitar Rp60 ribu per hari—itu pun tidak menentu. Dari penghasilan tersebut, ia harus menghidupi lima orang anggota keluarga. Untuk makan sehari-hari saja sering kali tidak cukup, apalagi untuk membeli obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS serta biaya transportasi kontrol ke rumah sakit di Kota Metro.
Ironisnya, sebelum kecelakaan itu terjadi, Agus adalah tulang punggung keluarga. Di usia yang masih sangat muda, ia memilih bekerja keras demi membantu orang tuanya. Kini, pemuda itu hanya bisa pasrah, menahan sakit, dan berharap ada uluran tangan kemanusiaan yang sudi datang menyelamatkannya.

“Kami sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi,” ucap salah satu anggota keluarga dengan suara bergetar. “Yang kami harapkan hanya kesembuhan Agus dan tempat tinggal yang aman.”
Relawan kemanusiaan menyebut kondisi Agus sebagai darurat kemanusiaan. Mereka berharap kisah pilu ini dapat mengetuk hati banyak pihak—khususnya Pemerintah Daerah Lampung Timur, instansi terkait, para dermawan, dan masyarakat luas—untuk memberikan bantuan nyata berupa pengobatan lanjutan dan pembangunan rumah layak huni.

Data Singkat:
Nama: Agus (20 tahun)
Alamat: RT 008 RW 004, Desa Purworejo, Kecamatan Pasir Sakti, Lampung Timur
Kontak Relawan: 0813-7315-4369 (Amrizal / Bang Rizal)
Pendamping: Relawan Peduli Agus – Sahabatpedalaman.org
Dokumentasi foto dan video kondisi rumah serta luka Agus telah tersedia dan siap disampaikan kepada pihak-pihak yang ingin membantu maupun media yang hendak menindaklanjuti.

Di tengah rasa sakit yang terus mendera dan hidup yang serba kekurangan, Agus masih menggenggam satu harapan sederhana: sembuh, bangkit, dan kembali menjalani hidup yang layak sebagai manusia.
Uluran tangan sekecil apa pun hari ini, bisa menjadi penentu hidup seorang pemuda—dan masa depan sebuah keluarga.(red)




















