Tribunpublik.web.id BINJAI — Jalan Rukam bukan sekadar alamat; ia adalah arena eksekusi moral negara yang gagal total. Bos AJU menari di atas reruntuhan hukum, perjudian terang-benderang, bebas dari ancaman. Di sini, hukum bukan alat keadilan hukum telah dijadikan komoditas, dibeli, dipelintir, dan diabaikan oleh mereka yang punya kekuasaan dan uang. Setiap meja judi adalah monumen kehancuran institusi, memperlihatkan kepada publik bahwa negara tidak lagi berani menegakkan aturan, hanya menonton kehancuran dari tepi panggung.
Polres Binjai terseret dalam aib yang membakar kredibilitas aparat hingga ke tulang. Mengetahui dan membiarkan = pengkhianatan berseragam yang memalukan bangsa. Tidak mengetahui = kegagalan struktural disengaja yang merusak fondasi negara. Kedua-duanya sama-sama mematikan integritas institusi. Seragam, prosedur, dan jargon hanya menjadi tameng tipis yang menutupi ketidakmampuan dan keberpihakan kriminal.
Jejaring perlindungan meluas dan berlapis-lapis: oknum yang mengaku wartawan, bayang-bayang TNI, hingga ormas yang diduga menjadi tameng kejahatan terorganisir, memastikan perjudian besar tetap hidup. Ini bukan lagi soal judi ini adalah negosiasi kriminal yang disahkan diam-diam, kolusi lintas institusi yang membuat hukum lumpuh. Setiap suara keberatan, setiap laporan, dipukul mundur oleh kekuatan yang menjadikan hukum sebagai alat tawar-menawar, bukan alat keadilan.
Kasus AJU memamerkan wajah hukum yang paling kejam: runcing ke bawah, tumpul ke atas, membusuk dari dalam. Rakyat kecil diseret, dihukum seketika, digebuk aturan kecil tanpa kompromi, sementara Bos AJU beroperasi di zona aman, diberi ruang tawar, dilindungi diam-diam, seolah aparat menandatangani ijin ilegalitas. Ini adalah hukum yang menghukum lemah dan memuja kuat, menjadikan keadilan hanya mitos bagi rakyat biasa.
Jalan Rukam kini menjadi garis akhir kehormatan negara. Tutup permanen, bongkar jejaring, ungkap alur uang, atau akui fakta pahit: negara menyerah, hukum roboh, dan keadilan mati pelan-pelan di hadapan publik. Diam bukan netral; pembiaran bukan tak bersalah; setiap aparat yang menutup mata kini tercatat dalam arsip aib nasional yang akan menghantui institusi selama bertahun-tahun. (Y)




















